Terdepan dan Terpercaya|Kamis, Juli 18, 2019
> Home » News » 95,85 Persen Lulusan SMK Terserap Dunia Kerja

95,85 Persen Lulusan SMK Terserap Dunia Kerja 

Gardankri.com, TANJUNG SELOR – Upaya pemerintah meningkatkan pendidikan melalui program vokasi, menunjukkan hasil positif di Kalimantan Utara. Hal ini terbukti dengan besarnya serapan tenaga kerja dari lulusan SMK di provinsi termuda ini.  

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK pada 2018 di sebesar 4,15 persen. Artinya, 95,85 persen lulusan SMK di Kaltara terserap di berbagai dunia usaha. Dari data yang dirilis BPS itu juga, Kaltara menempati posisi terbaik ke-2 secara nasional setelah Bali. 

“Sesuai informasi yang disampaikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltara, pada 2018 ada lebih dari 2.700-an lulusan SMK di Kaltara. Dari jumlah itu, hanya 4,15 persen yang belum terserap ke dalam dunia kerja. Selebihnya telah bekerja,” kata Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie.

 Dari 4,15 persen itu, menurut informasinya, tidak semua belum bekerja. Sebagian ada yang bekerja mandiri, atau yang termasuk sebagai blogger. “Mereka tidak tercatat sebagai pekerja, padahal mereka bekerja. Tren pekerjaan sekarang bukan lagi job, tapi usaha,” ungkapnya.

 Ditambahkan, tingginya lulusan SMK yang terserap oleh dunia kerja merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi Kaltara, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang ada di Kaltara. 

“Melalui Disdikbud telah mendata kompetensi siswa yang ada, sebelum lulur. Kemudian Disdikbud menawarkan ke para pelaku dunia usaha maupun industri, lewat bursa tenaga kerja dan MoU dengan beberapa perusahaan,” kata Irianto. 

Pemprov Kaltara, melalui Disdikbud, tegasnya, terus mendorong SMK yang ada untuk selalu berinovasi. Baik dari sisi kurikulumnya maupun sistem pembelajarannya. “Kami hadirkan suasana kerja di sekolah, karena itu saat ini sudah ada SMK yang mengelola industry, meski dalam skala kecil. Seperti produksi bandeng tanpa duri, pembuatan kerupuk,roti, pupuk, bahkan ada yang mengelolah bakteri pengurai dan yang memiliki kafe edukasi juga ada,” tambah Kepala Disdikbud Kaltara Sigit Muryono. 

Tahun ini, lanjut Sigit yang didampingi Kabid SMK Amat, kombinasi antarpelajaran juga telah dipraktikkan. Misalnya, pelajaran normatif berpasangan sama produktif atau produksi berpasangan dengan adaptif, maupun adaftif dan normati. Selain bermanfaat untuk siswa, program ini juga sebagai sarana tukar ilmu antarpengajar. 

“Pelajaran bahasa Inggris dikombinasi dengan teknik mesin, misalnya. Melalui ini, siswa akan belajar bagian mesin yang menggunakan bahasa Inggris. Jadi saling memahami, dan ini sudah jalan,” ujarnya.

 Program ini, kata Sigit, telah disampaikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), beberapa waktu lalu. Bahkan, oleh Kemendikbud menunjuk Kaltara sebagai pilot project untuk praktik pembelajaran model itu. (humas/ats/ardy) 

Add a Comment